Thursday, September 27, 2012

Tuhan Tidak pernah BERJANJI

Tuhan tidak pernah menjanjikan jika hidup akan mudah, tetapi Dia berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita.


Saya tidak membicarakan tentang Tuhan. Tuhan itu apa, siapa tuhan, bagaimana sifat Tuhan, saya tidak sedang membicarakannya. Karena bagi saya Tuhan melampaui segala macam sifat yang ada, dan ke-Maha Besaran Tuhan tidak terukur dengan apapun. Untuk itu bila kita membicarakan Tuhan dalam kerangka kalimat dan bahasa, maka Tuhan akan kita kecilkan dalam kerangka kalimat dan bahasa tersebut.

Saya sedang ‘merenungi’ tentang terminologi janji.
Apa sih janji itu? Mengapa harus ada janji? Kapan janji diadakan?
Janji adalah sebuah ikrar akan sebuah ikatan tentang harapan. Mengapa harus ada janji? Karena adanya pihak yang tidak percaya sehingga harus diyakinkan atau diikat dengan janji. Kapan janji diadakan? Janji diadakan pada awal kedua belah pihak mengikat untuk mencapai sebuah harapan yang dijanjikan.

Secara terminology linguistic janji adalah ikrar yang harus dipenuhi. Seseorang yang berjanji ia harus memenuhi janjinya untuk diwujudkan. Siapapun yang mengucapkan janji ia telah mengikatkan diri kepada sebuah keharusan untuk memenuhi janji tersebut.

Dalam hal ini, apabila Tuhan berjanji, apakah kita akan menempatkan Tuhan sebagai sebuah entitas yang harus memenuhinya? Bagaimanapun juga kalimat janji akan terhubung dengan pemenuhan. Janji dan memenuhi janji adalah sebuah kesatuan.
Bila kita secara implicit mengharuskan Tuhan memenuhi janjinya, maka kita merendahkan Tuhan dari sifatnya yang Maha Besar dan Maha segala-galanya. Bila kita sudah mempercayai bahwa Tuhan Maha Besar dan Maha segala-galanya dan ternyata Tuhan tidak memenuhi Janjinya ya terserah Tuhan.

Kalimat saya yang mengatakan bahwa Tuhan tidak berjanji adalah menempatkan Tuhan dalam sifatnya yang Maha Besar dan Maha segala-galanya. Kenapa Tuhan harus berjanji? Mengapa Tuhan harus ber-ikrar kepada manusia? Apakah karena Tuhan takut ditinggalkan oleh manusia bila ia tidak mengucap janji yang mengikat harapan manusia ?

Seharusnya, manusialah yang berjanji kepada Tuhan, bukan sebaliknya. Manusialah yang ber-ikrar tentang harapan yang akan dicapainya.

Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada kalimat terbuka yang menyatakan bahwa Tuhan berjanji. Semua kalimat yang dianggap sebagai janji Tuhan dikatakan lewat orang kedua. Artinya ada persepsi tentang janji Tuhan ini.
Disini kita harus membedakan secara linguistic antara Janji dan ketetapan.

Janji bukanlah ketetapan. Tuhan tidak berjanji, bahkan tidak pernah berjanji. Namun Tuhan telah menggoreskan ketetapannya. Ketetapan Tuhan inilah yang sekarang dikenal dengan law of universe atau hukum alam semesta.

Apa itu hukum alam semesta atau hukum Tuhan atau ketetapan Tuhan? Contohnya adalah perbuatan baik mendapat hasil baik, perbuatan buruk mendapat hasil buruk. Ini bukan janji, namun ketetapan.
Pikiran positif akan menarik hal-hal yang positif. Orang yang selalu berbuat baik akan ditempatkan ditempat yang baik. Ini juga merupakan ketetapan Tuhan.

Tuhan tidak pernah berjanji, namun ia telah menetapkan hukum yang rapi di alam semesta ini. Bila ada yang tanya, “apakah anda tidak percaya dengan janji Tuhan ?”

Saya jawab bahwa saya tidak memahami bila Tuhan Berjanji, karena bila saya percaya bahwa Tuhan berjanji maka saya telah merendahkan Tuhan dari sifat-sifatnya yang Maha Besar. Saya memahami bahwa Tuhan telah menetapkan aturan di alam semesta ini, dan aturan itu bukanlah janji Tuhan melainkan ketetapannya. Kita mengenalnya sebagai law of universe atau hukum-hukum alam semesta.

Manusia punya free will atau kehendak bebas untuk mematuhi aturan semesta itu atau tidak. Semua aturan semesta itu ada bukan untuk kepentingan Tuhan, namun untuk manusia itu sendiri.
Apakah Tuhan Berjanji? Tuhan tidak pernah berjanji, namun Tuhan telah menetapkan ketetapannya tentang hukum-hukum alam semesta yang sangat rapi di alam raya ini.

3 comments:

  1. satu hal yang pasti Allah tidak pernah mengingkari dari apa yang telah ditetapkannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Yap, Allah tidak akan mengingkari apa yang telah ditetapkan... tapi manusia lah penentunya, bukankan Allah sudah memberikan beberapa opsi pilihan.

      Delete