Thursday, September 27, 2012

Tuhan Tidak pernah BERJANJI

Tuhan tidak pernah menjanjikan jika hidup akan mudah, tetapi Dia berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita.


Saya tidak membicarakan tentang Tuhan. Tuhan itu apa, siapa tuhan, bagaimana sifat Tuhan, saya tidak sedang membicarakannya. Karena bagi saya Tuhan melampaui segala macam sifat yang ada, dan ke-Maha Besaran Tuhan tidak terukur dengan apapun. Untuk itu bila kita membicarakan Tuhan dalam kerangka kalimat dan bahasa, maka Tuhan akan kita kecilkan dalam kerangka kalimat dan bahasa tersebut.

Saya sedang ‘merenungi’ tentang terminologi janji.
Apa sih janji itu? Mengapa harus ada janji? Kapan janji diadakan?
Janji adalah sebuah ikrar akan sebuah ikatan tentang harapan. Mengapa harus ada janji? Karena adanya pihak yang tidak percaya sehingga harus diyakinkan atau diikat dengan janji. Kapan janji diadakan? Janji diadakan pada awal kedua belah pihak mengikat untuk mencapai sebuah harapan yang dijanjikan.

Secara terminology linguistic janji adalah ikrar yang harus dipenuhi. Seseorang yang berjanji ia harus memenuhi janjinya untuk diwujudkan. Siapapun yang mengucapkan janji ia telah mengikatkan diri kepada sebuah keharusan untuk memenuhi janji tersebut.

Dalam hal ini, apabila Tuhan berjanji, apakah kita akan menempatkan Tuhan sebagai sebuah entitas yang harus memenuhinya? Bagaimanapun juga kalimat janji akan terhubung dengan pemenuhan. Janji dan memenuhi janji adalah sebuah kesatuan.
Bila kita secara implicit mengharuskan Tuhan memenuhi janjinya, maka kita merendahkan Tuhan dari sifatnya yang Maha Besar dan Maha segala-galanya. Bila kita sudah mempercayai bahwa Tuhan Maha Besar dan Maha segala-galanya dan ternyata Tuhan tidak memenuhi Janjinya ya terserah Tuhan.

Kalimat saya yang mengatakan bahwa Tuhan tidak berjanji adalah menempatkan Tuhan dalam sifatnya yang Maha Besar dan Maha segala-galanya. Kenapa Tuhan harus berjanji? Mengapa Tuhan harus ber-ikrar kepada manusia? Apakah karena Tuhan takut ditinggalkan oleh manusia bila ia tidak mengucap janji yang mengikat harapan manusia ?

Seharusnya, manusialah yang berjanji kepada Tuhan, bukan sebaliknya. Manusialah yang ber-ikrar tentang harapan yang akan dicapainya.

Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada kalimat terbuka yang menyatakan bahwa Tuhan berjanji. Semua kalimat yang dianggap sebagai janji Tuhan dikatakan lewat orang kedua. Artinya ada persepsi tentang janji Tuhan ini.
Disini kita harus membedakan secara linguistic antara Janji dan ketetapan.

Janji bukanlah ketetapan. Tuhan tidak berjanji, bahkan tidak pernah berjanji. Namun Tuhan telah menggoreskan ketetapannya. Ketetapan Tuhan inilah yang sekarang dikenal dengan law of universe atau hukum alam semesta.

Apa itu hukum alam semesta atau hukum Tuhan atau ketetapan Tuhan? Contohnya adalah perbuatan baik mendapat hasil baik, perbuatan buruk mendapat hasil buruk. Ini bukan janji, namun ketetapan.
Pikiran positif akan menarik hal-hal yang positif. Orang yang selalu berbuat baik akan ditempatkan ditempat yang baik. Ini juga merupakan ketetapan Tuhan.

Tuhan tidak pernah berjanji, namun ia telah menetapkan hukum yang rapi di alam semesta ini. Bila ada yang tanya, “apakah anda tidak percaya dengan janji Tuhan ?”

Saya jawab bahwa saya tidak memahami bila Tuhan Berjanji, karena bila saya percaya bahwa Tuhan berjanji maka saya telah merendahkan Tuhan dari sifat-sifatnya yang Maha Besar. Saya memahami bahwa Tuhan telah menetapkan aturan di alam semesta ini, dan aturan itu bukanlah janji Tuhan melainkan ketetapannya. Kita mengenalnya sebagai law of universe atau hukum-hukum alam semesta.

Manusia punya free will atau kehendak bebas untuk mematuhi aturan semesta itu atau tidak. Semua aturan semesta itu ada bukan untuk kepentingan Tuhan, namun untuk manusia itu sendiri.
Apakah Tuhan Berjanji? Tuhan tidak pernah berjanji, namun Tuhan telah menetapkan ketetapannya tentang hukum-hukum alam semesta yang sangat rapi di alam raya ini.

Monday, September 10, 2012

Memahami indahnya Kegagalan

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
 
“Sesungguhnya kegagalan terasa menyakitkan, semata karena anda tidak faham sesuatu dari Allah di dalam kegagalan itu.”




Jika anda faham, anda akan melihat adanya kelembutan Ilahi, karena semuanya adalah rahmat dan kemurahan dariNya. Jadi seperti dikatakan juga oleh Ibnu Athaillah, “Siapa yang menyangka terlepasnya kelembutan Ilahi atas takdirnya (yang keras) semata karena piciknya pandangan orang itu.”
Di atas juga disebutkan, “Jika Allah membukakan pintu kefahaman, maka kegagalan adalah hakikat pemberian.” Dan kelak dibelakang akan kita jumpai kata-kata beliau yang indah, “Hendaknya bisa memperingan beban atas derita cobaan pada dirimu, manakala engkau mengetahui bahwa Allah lah yang memberi cobaan itu padamu.”
Jadi bila kita mengenal Allah Maha Kasih, Maha Lembut, Maka Mulia dan Maha Murah, maka segala bentuk keterhalangan kehendak kita, sesungguhnya sama sekali tidak akan merubah pendirian kita akan Sifat-sifat LembutNya dan KasihNya kepada kita.






Karena itu beliau melanjutkan hikmahnya yang agung :

“Terkadang Allah membukakan pintu Taat pada Allah bagimu, dan tidak membukakan pintu suksesnya keinginanmu. Bahkan Allah  pun menentukan suatu tindakan dosa padamu, dan tindakan itu malah membuatmu sampai ke hadiratNya.”

Taat itu sendiri adalah anugerah yang luar biasa, bukan sekadar suksesnya keinginan anda. Karena kegagalan atas cita-cita anda sesungguhnya teriringi oleh anugerah Allah dibalik semua itu. Jadi hakikatnya bukan gagal, namun anugerah pemberian.

Pintu-pintu sukses yang sesungguhnya ada tiga, menurut Syeikh Zarruq:
Pertama: Taqwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah menerima (memberikan Kabul) dari orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Maidah 27). Setiap amaliyah yang tidak disetrtai ketaqwaan hanyalah kepayahan dan  kerja keras tanpa guna. Menjadi berguna manakala seseorang melakukannya dengan penuh sukacita bersama Allah Ta’ala.

Kedua: Ikhlas. Segala sesuatu kalau bukan karena demi Wajah Allah tidak diterima oleh Allah. Hadits Qudsy menegaskan, “Aku Maha tidak butuh pendamping yang lain (syirik). Siapa yang beramal dimana ada unsur lain di dalamnya selain diriKu, maka Aku tinggalkan amal hamba itu dan unsur lain tersebut.”

Ketiga: rasa yakin mengikuti jejak Sunnah dan Kebenaran. Karena Allah tidak menerima amal hamba yang melakukan amaliyah kecuali dengan sikap benar dan mengikuti kebenaran.
Siapa pun yang melakukan amaliyah dengan tiga kategori di atas, maka dia akan mendapatkan kemudahan atas amaliahnya karena ketiganya sebagai pertanda diterimanya amal. Jika tidak, maka hanya mendapatkan kepayahan dan kelelahan belaka.

Sedangkan orang yang ditakdirkan dosa, menjadi sebab orang tersebut wushul kepada Allah, dimana hidayah justru terbuka paska tindakan dosa, karena tiga hal pula :

1.    Rasa remuk redam atas tindakan dosanya, seperti dalam hadits Qudsi: “ Aku bersama orang yang remuk redam hatinya demi menuju kepadaKu.”

2.    Ditambah dengan taubat orang tersebut, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat.” (Al-Baqarah : 222).

3.    Semangat yang disertai kewaspada-an dalam menempuh keikhlasan, dan penyucian dosa-dosanya.
Dalam hadits disebutkan, “Betapa banyaknya dosa, malah membuat si empunya malah masuk syurga.”
Syeikh Abul Abbas al-Mursi menafsirkan firman Allah swt :
“Allah memasukkan malam di dalam siang dan memasukkan siang di dalam malam. “ (Al-Hajj: 61)
Maknanya adalah Allah memasukkan taat dalam maksiat, dan memasukkan maksiat di dalam taat.
Seorang hamba yang penuh taat, lalu dia kagum atas prestasi taatnya, dan merasa dengan taatnya kepada Allah membuatnya hebat, lalu minta ganti rugi pahala dari Allah atas amal ibadahnya. Sikap demikian adalah kebaikan yang dihapus oleh keburukan.

Rasa kagum atas prestasi ibadahnya adalah kejahatan di dalam dirinya. Itulah yang disebut masuknya taat dalam maksiat.
Begitu juga ketika pendosa berbuat dosa, kemudian ia bertobat kembali kepada Allah Ta’ala dengan remuk redam hatinya, merasa hina dan memohon ampunan padaNya, bahkan dia merasa lebih berdosa dari siapa pun jua, karena belum pernah ada dosa yang lebih hebat ketimbang dia.
Kesadaran ini berarti maksiat yang masuk dalam taat.

Kemudian mana yang disebut maksiat dan mana yang disebut ibadah taat ?

Tuesday, September 4, 2012

Awal dikorupsi sekarang salah cetak, Oh nasib Al Quran di Indonesia

Kemarin pagi saya membaca salah satu artikel di surat kabar yang terbit pagi yang cuplikan isinya sebagai berikut : 

"Pengusutan dugaan korupsi tender Al Quran Kementerian Agama (Kemenag) belum tuntas sekarang muncul persoalan baru. Ribuan kitab suci umat Islam yang dicetak dan diedarkan pada tahun 2011 banyak mengalami kesalahan cetak (salah halaman, salah cetak, isi kurang mulai halaman 89-120, kesalahan tanda baca (harakat), halaman membayang sehingga tidak bisa dibaca, keriput sehingga huruf banyak yang terpotong dll) sampel tersebut diambil dari Bogor, Cirebon, Ciamis, Kediri, Surabaya, Sulawesi dan Lampung cetakan PT. Adhi Aksara Abadi Indonesia dan hal ini sudah diakui oleh Irjen Kemenag Muhammad Yasin dan hasil penelitian Lembaga Percetakan Al Quran - Sarmidin Nasir, hal ini bisa terjadi dikarenakan kelalaian tim Laznah kemenag yang mengkaji Al Quran sebelum dicetak dan didistribusikan".

Pada pembelaannya mereka tidak mengatakan semuanya tapi kebanyakan terjadi kesalahan pada hasil cetakan tersebut, dan akan segera dilakukan penarikan cetakan yang salah. Ah, omongan pembelaan diri yang sudah sering terjadi...

Wallahu Alam...

Tidak sedikitpun dalam hati kecil saya keraguan akan terjadinya noda pada kesucian dan kemurnian Al Quran, karena akan dijaga kesucian dan kemurniannya oleh penciptaNya sampai akhir jaman.

Mungkinkah pada saat ini para koruptor sudah kehilangan lahan untuk dikorupsi, sampai kesucian dan kemurnian Al Quran pun mereka permainkan (dengan menghilangkan/mengurangi jumlah halaman dan lain sebagainya) ?

Bisa jadi ini pertanda baik bagi bangsa ini, karena lahan korupsi yang "Makin Menyempit" sehingga (mungkin) dengan "amat terpaksa" mereka korupsi pula proyek padat modal percetakan dan pengadaan Al Quran yang kesucian dan kemurniannya dijamin oleh Penciptanya sampai akhir jaman.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada cara pikir si koruptor di proyek ini, pertama koruptor sudah kehilangan akal untuk mencari lahan yang akan dikorupsi sehingga terpaksa proyek Al Quran ini diembat juga untuk kantong pribadi dan kroninya, kedua koruptor tidak sadar (khilaf) bahwa Allah sebagai pencipta Al Quran akan langsung menghukum/mengambil tindakan mereka karena kesucian dan kemurnian ciptaanNya dinodai, ketiga mereka dengan sadar tahu akan resiko yang akan terjadi jika melanggar janji Allah jika menodai kesucian dan kemurnian Al Quran tapi bersikap masa bodoh dan tidak peduli toh Allah Maha Pengampun, Penyayang dan selalu Maha Rahman juga Rahiim jika ketahuan oleh Nya mereka akan bertobat dan memohon ampunan, keempat koruptor tidak ambil pusing dan masa bodoh dengan proyek Al Quran karena beranggapan proyek ini seperti korupsi pada umumnya.

Sekarang mari coba kita diskusikan keempat hal diatas sambil menunggu hasil kerja tim yang mengusut kasus tersebut, 
jika hal pertama yang terjadi maka ada pertanda baik di bangsa ini karena lahan pekerjaan para koruptor makin berkurang sehingga dengan amat terpaksa mereka lakukan juga korupsi pada proyek pengadaan Al Quran untuk memenuhi kebutuhannya, kedua dengan alasan yang klise (khilaf) ini sepertinya alasan yang dibuat-buat karena mereka pasti melakukannya tidak sendirian tapi beregu/kelompok yang saya yakin tidak semua orang pada tim itu dihinggapi/menderita penyakit khilaf, ketiga alasan ini agak keterlaluan, pasti koruptor akan merasakannya langsung hukuman dari Allah sambil bertobat memohon ampunan dariNya di dalam pengapnya penjara, keempat.... Waalah jika ini yang terjadi pada pikiran koruptor saat melakukan korupsi pengadaan Al Quran sudah lengkaplah betapa bejatnya moral koruptor di bangsa ini, sudah tahu Al Quran kok ya masih aja dikorupsi.

Saat ini saya tidak berpikir tentang nasib para koruptor tersebut karena proses penyelidikan sudah berjalan dan semoga hukuman yang setimpal akan mereka terima, akan tetapi dalam benak saya terbersit keharuan yang mendalam bahwa satu hal lagi bukti kekuasaan Allah, JanjiNya akan kesucian dan kemurnian Al Quran yang akan terjaga sampai akhir jaman sudah dilakukanNya.

Korupsi di bangsa ini, sampai bosan mata ini dengan melihat, membaca dan mendengar di semua media elektronik dan cetak sudah hal yang lumrah di negeri ini. Tapi kok ya, kebangetan sampai Al Quran di korupsi.... Apa koruptor dengan tindakan korupsinya yang merugikan sudah sedemikian pongahnya sehingga mencoba tantangan dengan tidak mengindahkan seruan Allah.

Maafkan mereka ya Allah, berikan hidayahMu pada para koruptor di negeri ini.

Sunday, September 2, 2012

Solusi Sederhana


Pada beberapa waktu lalu seorang pemuda yang juga pengusaha yang sukses datang ke tempat dokter, untuk bertanya tentang keluhan yang dialaminya....

Pemuda      : Dok, beberapa waktu ini sering mengalami sakit kepala, sulit bernapas, telinga panas dan
                    pandangan berkunang-kunang...
Dokter        : Baik, saya akan mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap keluhan yang anda alami.

Setelah beberapa saat melakukan serangkaian test menyeluruh terhadap tubuh pemuda yang menjadi pasiennya, selesailah hasil pemeriksaan si dokter tersebut.

Dokter    : Pemeriksaan yang saya lakukan sudah selesai mari kita sekarang bersama-sama melihat hasil    
                 pemeriksaan ini.
Pemuda    : Baik Dok, mari kita lihat hasilnya...

Lalu dokter menyajikan beberapa lembar kertas juga beberapa lembar foto rontgent yang didapat dari serangkaian test pemeriksaan dan mulai memberikan penjelasan pada pemuda tersebut..

Dokter    : Agaknya tidak ada yang mengkhawatirkan mengenai kesehatan yang anda alami saat ini, beban pekerjaan yang terjadi saat ini memang pada beberapa pasien akan             menimbulkan gejala seperti yang anda alami.
Pemuda    : Oh, beban pekerjaan saya memang berat Dok. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk kesehatan saya ini, Dok ?

Dokter    : Berhentilah bekerja dan mulailah menikmati hidupmu karena beban pekerjaan yang berat akan memperpendek usiamu...
Pemuda    : Baik, Dok. terima kasih sarannya. Saya akui beban pekerjaan saya memang cukup berat... dan rupanya hal tersebut yang mengganggu kesehatan saya akhir-akhir ini.

Lalu pemuda itupun mengikuti saran sang dokter, ia keluar dari pekerjaan, mengumpulkan hasil tabungan selama bekerja, menjual apa yang bisa dijual dan mulai menikmati apa yang selama ini ingin dilakukannya yakni keliling dunia.
Sehari sebelum berangkat untuk perjalanan liburan, ia memutuskan ke toko pakaian untuk memilih beberapa baju yang akan digunakan saat berlibur.

Pemuda    : Saya ingin membeli beberapa kemeja dengan ukuran leher 15, tolong berikan saya beberapa pilihan.
Pelayan    : Baik, Pak. Akan saya lakukan tapi sebelumnya saya akan mengukur lingkar leher Bapak untuk memastikan ukurannya ?

Pemuda    : Baiklah.

Maka pelayan toko pakaian tersebut melakukan pengukuran lingkar leher pemuda tersebut.

Pelayan    : Hasil pengukuran yang saya lakukan lingkar leher Bapak adalah 15,5... akan saya berikan beberapa pilihan pakaian dengan ukuran tersebut
Pemuda    : Oh, jangan saya biasa membeli pakaian dengan ukuran lingkar leher 15 dan sudah semestinya anda menuruti permintaan saya.

Pelayan    : Baik, Pak. Saya akan mengambil pakaian dengan ukuran pakaian yang anda inginkan akan tetapi dengan ukuran tersebut Bapak akan mengalami
      sakit kepala, sulit bernapas, telinga panas dan pandangan berkunang-kunang... karena lingkar leher yang terlalu sempit.

Pemuda tersebut tertegun sejenak, dan berpikir sesederhana itukah solusi atas penyakit yang selama ini dideritanya.....

Yap, terkadang permasalahan hidup yang cukup berat bisa diselesaikan dengan solusi yang sederhana pula.
Oleh karena itu marilah pandang problem hidup yang terjadi saat ini, dengan cara pandang yang simple juga..

Urai satu persatu yang telah terjadi dan cobalah mengerti bahwa pada diri kita sendirilah sebetulnya semua penyelesaian semua problem hidup itu akan dapat diselesaikan.

Tanpa disadari seringkali kita menyerah pada problem yang muncul, dan berkata ini sudah jalan hidupku, atau ini Takdir Tuhan, Ini keputusan Tuhan akan hidupku.
Seringkali Tuhan menjadi kambing hitam atas semua yang terjadi pada hidup kita. Padahal Tuhan tidak tidak menentukan "Takdir" tapi tanpa kita sadari beberapa pilihan sederhana yang disajikan Tuhan tentang hidup sering tidak terpikir untuk dilakukan.

Tuhan dengan Kasih Sayang nya, selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya. Kita sendiri yang sering mengabaikannya.

Wassalam

Dalam Sujud ada pengetahuan

Kata dasar dari As Sajadah adalah Sujud.

Bila dalam melakukan shalat, bila gerak shalatnya sesuai dengan rukun shalatnya, maka gerak anggota badan orang yang shalat tersebut tidak akan keluar dari sajadah yang dipakai sebagai dasar pijakan di dalam melakukan shalatnya.

Oleh sebab itu As Sajadah dapat di intepretasikan sebagai “batasan” atau “keterbatasan”. Keseimbangan dan harmonisasi atara perilaku hidup manusia dengan alam hanya akan terjadi apabila setiap manusia mempunyai kesadaran, bahwa selain dirinya sendiri mempunyai “keterbatasan”,alam pun juga mempunyai hal yang sama yaitu “keterbatasan” dalam memenuhi kehendak hidup manusia yang tak kenal batas tersebut. Manusia yang sehat adalah manusia yang seimbang, yaitu seimbang antara kehendak atau nafsunya dengan kemampuan dirinya dalam merealisasikan kehendak tersebut. Apabila Fisik atau otak manusia dipaksa untuk memenuhi kehendak yang tidak kenal batas tersebut, maka Fisik atau otak orang tersebut akan mengalami tekanan-tekanan yang berakibat pada rusaknya keseimbangan atau kesehatan yang sudah ada.

Perilaku manusia yang dalam kondisi tidak seimbang dapat menimbulkan akibat yang negatif terhadap lingkungan sosialnya maupun lingkungan kosmisnya. Untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan individual dengan kehidupan sosial dan kehidupan kosmisnya, terlebih dahulu harus dimulai dari menyeimbangkan diri sendiri. Setelah itu secara bertahap baru kelingkungan yang lebih luas, keluarga, masyarakat dalam skala sempit, masyarakat keseluruhan, terus meluas baru kemudian lingkungan kosmisnya.

Dalam idiom budaya kita, keseimbangan dan harmonisasi antara perilaku hidup manusia dengan alam dikenal dengan istilah “Manunggalnya Jagad Cilik dengan Jagad Gede” atau “Manunggalnya Kawulo Gusti”. Pengertian “Gusti” disini bukan Dzat Allah, tetapi Cipta, Rasa, Karsa dan Cipta dari Sang Pencipta yang terwujud dalam perilaku kehidupan alam yang selalu patuh pada hukum-hukum kehidupan alam. Kata “manunggal” sendiri lebih tepat diartikan sebagai menyatu dalam ke-“jumbuh”-an. Jumbuh mempunyai pengertian tidak sama, tapi ketidak-samaan yang ada sudah sulit untuk dibedakan. Misalnya, air sumur yang jernih dari sumur dicampur dengan air jernih dari leding. Jadi “Manunggalnya Kawulo dengan Gusti” dapat diartikan sebagai jumbuhnya cipta, rasa, karsa dan cipta antara manusia dengan Penciptanya, dan itu terwujud dalam menyatunya dalam     ke-jumbuh-an antara perilaku hidup manusia dengan gerak kehidupan alam.

 Dari sini terlihat Al Qur'an yang diturunkan di Timur Tengah pada beberapa abad yang lalu ternyata bisa dipakai untuk memahami budaya Jawa. Hal ini merupakan salah satu bukti dari sifat ke-universal-an  Al Qur’an.

Analisa yang dilakukan diatas tadi baru menyentuh permukaan Al Qur'an, baru studi awal terhadap format yang ada di dalamnya. Baru mempergunakan parameter surat dan Juz, belum mempergunakan seluruh parameter yang ada. Untuk melakukan studi terhadap ayat, sangat dibutuhkan kerjasama dan kontribusi dari setiap orang yang berniat melakukan pemahaman tentang kehidupan. Dengan menggunakan metoda ini kajian ayat menjadi kajian yang sangat advance. Untuk sampai ke kajian tersebut dibutuhkan kontribusi dari banyak orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing.

Begitu luasnya kandungan ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al Qur'an, sehingga dikatakan ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya tak akan habis biarpun ditulis dengan pena sebanyak daun-daun yang ada di seluruh pohon-pohon, dan dengan tinta sebanyak air yang ada di tujuh samudra. Artinya, merupakan kemustahilan bahwa ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al Qur'an dapat dikuasai sepenuhnya oleh satu orang atau satu kelompok orang. Pada tahap awal saja, sudah disadari tentang kebutuhan terhadap masukan dari banyak pihak. Semakin banyak masukan dari banyak pihak, semakin lengkaplah hasil kajian yang dilakukan. Itulah keindahan dari keterbukaan pikiran atau keterbukaan sikap dalam bersilaturahmi.

Kontradiksi Laba-laba dalam surat Al Ankabut:41

Beberapa waktu lalu pada hari jum'at yang terik mataharinya menyengat di kota kelahiran, terdengar seorang khatib sedang melakukan khotbah shalat jum'at yang materinya adalah penjelasan sebuah ayat yakni surat Al Ankabut ayat ke 41

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah, ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui." – (QS.29:41)

Sudah jelas arti tersurat pada surat Al Ankabuut ayat 41 tersebut atau pengertian mudahnya adalah sebagai berikut  :

" Hanya Allah Ta'ala yang bisa memberikan perlindungan pada setiap umat yang dikehendaki Nya, dan tidaklah mungkin umat meminta pertolongan pada sesama mahluk yang  lain diibaratkan seperti rumah laba-laba yang teramat rapuh sehingga tidak bisa memberikan perlindungan."

Setelah selesai melakukan shalat Jum'at tersebut tetap terngiang pada batok kepala ini tentang isi ayat yang luar biasa itu, lalu muncullah pertanyaan pada benak saya..

"Ya Allah, tidak sedikitpun dalam hati ini saya ragu akan Kebesaran dan Kuasa Mu, tetapi kenapa musti yang dijadikan perumpaan kok sarang laba-laba yang sudah jelas amat rapuh ? Kenapa bukan perumpamaan yang  lain " ....

He he he semoga Allah yang Maha Pengampun menerima permohonan ampun dariku atas pertanyaan yang nakal ini.

Timbul semangat dan keyakinan pada diri ini tentang adanya makna/arti yang tidak kentara (tersirat) atau tersembunyi pada ayat tersebut. Setelah beberapa jam disibukkan pada rutinitas rutin sesampainya di rumah saya mencoba mengadakan riset kecil tentang Surat Al Ankabut ayat 41 tersebut, tentu saja riset yang paling mudah dilakukan adalah melalui mesin pencari Google.

Setelah browsing kesana kemari tiba-tiba saya tersentak di depan monitor, tentang sebuah riset yang dilakukan oleh beberapa peneliti tentang kekuatan serat yang dihasil oleh salah satu spesies laba-laba yaitu Laba-laba kulit pohon darwin (Caerostris darwini) yang banyak tersebar di Madagaskar

Jika diterjemahkan tentang hasil riset penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut kurang lebih adalah  :
"Riset yang kami lakukan terbukti bahwa serat laba-laba jenis Laba kulit pohon darwin memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan serat laba-laba jenis tersebut 10 kali  lipat dari serat kevlar atau bahan pembuat rompi anti peluru dan direncanakan hasil penemuan tersebut akan dijadikan bahan pesawat luar angkasa karena amat ringan, liat dan kuat"

Sarang laba-laba yang pada Al Quran di surat Al Ankabut dijelaskan amat rapuh ternyata amat kuat, fenomena apa yang sedang terjadi pada hasil penelitian tersebut ?
Kenapa bisa begini, bukankah telah dijelaskan bahwa Al Quran akan relevan untuk umat sampai akhir zaman .... pasti ada penjelasan lain dibalik ini semua ? Atau sedemikian bebalnya otak saya ini ?

Sebuah artikel yang sangat bertolak belakang dengan penjelasan/terjemahan dari Al Quran tentang isi ayat ke 41 dari surat Al Ankabut tersebut !!!

Beragam pertanyaan tentang penjelasan Surat Al Ankabut ayat 41 terus menerus berkecamuk di kepala ini.

Duuh, muncul problem berikutnya karena modem yang nempel di laptop udah teriak minta diisi pulsa karena unlimitednya sudah berakhir he he he.......
Ya Allah, berilah jawaban pada otakku yang bebal ini hingga amat sulit mengerti tentang isi ayat tersebut.

Setelah beberapa saat melakukan transaksi di counter pulsa, register unlimited mingguan, sebungkus rokok dan membuat segelas kopi. Mulailah aktivitas browsing dimulai lagi terutama tentang spesies laba-laba pohon kulit darwin tersebut.

Beberapa saat setelah itu dari hasil bertanya dari mbah google terdapat penjelasan pada salah satu artikel bahwa :

"Laba-laba adalah salah satu hewan soliter yang artinya mereka  melakukan aktifitas mencari makanan sendiri dengan membuat sarang yang terpisah dari kelompoknya."

Pada saat yang sama di tab berikutnya untuk kedua kalinya pada malam ini saya tersentak setelah membaca salah satu artikel mengenai tingkah laku khusus laba-laba pohon kulit darwin  dan laba-laba pada umumnya. Kurang lebih inilah hasil terjemahan pada artikel tersebut

" Induk laba-laba sekali bertelur berjumlah ratusan dan menetas pada waktu bersamaan, setelah itu anak laba-laba yang masih kecil itu akan bersama-sama melakukan aktivitas memakan tubuh induknya sampai habis tidak tersisa sama sekali untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, setelah tubuh si induk habis mereka akan melakukan proses kanibal berikutnya yakni memakan laba-laba lain yang lebih lemah sebelum akhirnya saling membubarkan diri dari kelompoknya dan membuat sarangnya masing-masing "

Maha Besar engkau ya Allah, ternyata inilah arti yang tersirat/tersembunyi dari surat Al Ankabut ayat 41 tersebut.
.
Perumpamaan tentang perlindungan di sarang laba-laba tersebut amatlah benar dan tetap akan relevan digunakan sampai akhir zaman.

Jika potongan puzzle dari hasil bertanya dari mbah google tersebut disatukan.
Menurut pendapat saya terjemahan bebasnya kurang lebihnya artinya seperti ini  :
"Makna dari surat Al Ankabut ayat 41 bukan ditekankan pada sarang laba-laba yang seratnya rapuh (karena terbukti ada juga serat laba-laba yang lebih kuat dari kevlar) akan tetapi artinya lebih ditekankan pada sifat laba-laba yang saling bunuh untuk mempertahankan hidup masing-masing tanpa ada rasa kebersamaan diantara mereka sendiri. Termasuk memakan tubuh induknya, memangsa yang lemah pada kelompok mereka, akhirnya berpisah untuk membuat sarangnya masing-masing dan memulai siklus hidup dari awal lagi. Begitu seterusnya....."

Mungkinkah sarang laba-laba bisa memberikan perlindungan pada makhluk lain, jika sifat alamiah mereka seperti tersebut pada terjemahan bebas diatas. Menetas, memakan induknya, memangsa yang lemah dari kaumnya sendiri, membuat sarangnya masing-masing, menunggu mangsa datang dan menghisapnya.

Atau memang penjelasan tentang hal diatas adalah simbol atau perlambang dari Allah pada makhluk ciptaanNya yang bernama 'Manusia' Bukankah perlindungan bagi umat manusia hanya dari Allah Ta'alla dan atas seijin  Allah Ta'alla bukan dari sesama makhluk.

Belajar dari Pezina

Sebagai sesosok binatang pemakan buah-buahan, daun-daunan dan bunga-bungaan. Luwak (Viverridae) amat ahli dalam memilih buah yang masak langsung dari pohonnya. Perilaku luwak yang seringkali memanen kopi tanpa seijin dari petani pemilik pohon, dahulu dirasa meresahkan.Luwak termasuk hama kopi dalam kategori top target yang harus dimusnahkan,  akan tetapi hal itu sudah tidak terjadi saat ini karena "Kopi Luwak" namanya sudah mendunia. 

Biji kopi yang dipetik dari pohon oleh luwak adalah biji yang benar-benar masak, matang pohon dan bebas dari insektisida. Setelah melalui proses fermentasi pada pencernaannya akan menghasilkan biji kopi yang sudah terkelupas dari kulitnya. Hasilnya Kopi yang amat gurih, beraroma spesial, dan asam pahit yang khas. Inilah yang disebut "Kopi Luwak".

Yap, kopi luwak adalah hasil akhir kotoran dari sistem pencernaan luwak yang berupa Kotoran atau feses.
Saat ini belum ditemukan teknologi yang dapat menyamai hasil pencernaan luwak untuk menghasilkan kopi dengan kualitas yang sempurna, inilah salah satu bukti dari kebesaran Tuhan.


Apakah semua kotoran akan menghasilkan sesuatu yang kotor dan tidak bermanfaat dan harus dimusnahkan jauh-jauh ?
Tidak semuanya, karena kotoran akan bermanfaat juga tergantung cara memanfaatkan dan cara pandang kita tentunya.

Kotoran bila dimaknai kosa katanya, adalah sesuatu yang kotor atau menjijikkan.
Arti kotoran dalam kehidupan bermasyarakat saat ini adalah pendosa/pembuat dosa yang membikin aib bagi masyarakat. Atau salah satu contoh gamblang dalam bermasyarakat adalah pezina atau "Pelacur"

Pelacur dalam masyarakat adalah suatu hal yang dicintai sekaligus amat dibenci, dicintai karena pelacur juga dibutuhkan oleh golongan tertentu yang menginginkannya, sebagai teman sesaat untuk pelipur disaat hati gundah. Dan amat dibenci keberadaannya oleh kaum bermoral karena dianggap menjijikan dan aib mengerikan bagi lingkungannya.

Segala upaya mereka lakukan untuk memusnahkan salah satu peradaban tertua di dunia ini.
Tanpa sadar kaum bermoral merasa paling benar dan menganggap sorga adalah milik mereka, dan dengan seenaknya mereka akan memasukan para pelacur dalam neraka, tanpa kaum bermoral tahu dimanakah kunci neraka berada.

Pada suatu waktu terjadi proses pembelajaran yang berpengaruh pada perjalanan saya menuju Sang Khalik....

Berikut adalah wawancara yang pernah saya lakukan pada salah satu pelacur.... "Mbak, apakah tidak ingin suatu saat nanti untuk membentuk kehidupan dan keluarga yang normal ?"

Dan jawaban mengejutkan terlontar dari bibirnya,... "Mas, saya selalu berupaya melayani dengan sepenuh hati pelanggan saya dan pada saat melakukan pekerjaan ini Doa terus saya panjatkan pada Tuhan agar pelangganku kembali dan memintaku menjadi istrinya suatu saat nanti...."



Ya, harapan atau asa atau keinginan akan terkabulnya pengharapan adalah semangat bagi jiwa dan mesin penggerak bagi manusia agar terus hidup.

Saat ini hanya harapan akan terkabulnya doa yang dipunya pelacur itu dan doa tersebut dipanjat terus menerus dengan tingkat kesabaran yang hampir di luar batas, bahwa suatu saat nanti pasti Tuhan akan mengabulkannya. Sepertinya harapan akan terkabulnya doa yang dipanjatkan sudah menjadi bagian wajib dari rutinitas hidupnya.
 
Amat mengagumkan harapan pelacur tersebut, meski mereka sadar akan cemoohan dan hujatan kaum bermoral yang mempunyai keyakinan bahwa doa para pelacur tidak akan dikabulkan oleh Tuhan.

Di lain tempat golongan kaum bermoral yang menganggap dirinya suci, bersih, merasa sudah melakukan perintah Tuhan, menjauhi laranganNya dan keyakinan yang menyertai bahwa yang paling dekat dengan Tuhan pastilah dikabulkan doanya...

Muncul pertanyaan besar pada diri saya, Apakah doa kaum bermoral yang merasa berpengetahuan agama tinggi pasti dikabulkan ?
Bukankah terkabulnya doa yang dipanjatkan oleh makhluk adalah hak Tuhan sepenuhnya sebagai Sang Maha Pengabul Doa ?

Keyakinan pada diri kaum beragama akan terkabulnya doa yang mereka panjatkan pada Tuhan tidak akan berarti apa-apa bagi Nya jika disertai oleh kesombongan, ketidaksabaran dan merasa dirinya paling suci, paling bersih, paling benar dan merasa lebih tinggi derajatnya dari pelacur/pezina/pendosa adalah salah satu sebab tidak terkabulnya doa.
Tuhan yang Maha Besar, Maha Suci, Maha Benar juga Maha Sombong membenci hal tersebut, karena di hadapan Nya semua manusia sama derajatnya tanpa membedakan profesinya.

Jika hal ini terjadi maka pada kebanyakan kaum bermoral akan timbul perasaan kecewa, marah dan jengkel pada Tuhan. Bahkan mereka mungkin akan pergi meninggalkan Tuhan. Yang demikian jamak terjadi, karena harapan akan terkabulnya doa bukanlah rutinitas hidup yang wajib pada diri kaum bermoral yang salah berpikir tentang konsep berdoa ini.

Apakah yang terjadi jika banyak kaum bermoral meninggalkan Tuhan, karena merasa doanya tidak dikabulkan ?
Sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi Tuhan pemilik alam semesta.

Sebaiknya jangan lupa akan satu hal paling mendasar pada konsep keTuhanan.

"Jika semua makhluk yang ada di semesta ini mengingkari keberadaan Tuhan, KebesaranNya tidak akan berkurang. Dan jika semua makhluk di semesta ini bersama meyakini keberadaan Tuhan, kebesaranNya juga tidak akan bertambah karena kebesaran Tuhan adalah Absolut"

Hikmah yang bisa diambil dari semua ini... jangan merasa paling bersih, suci dan benar karena hanya Tuhan yang berhak untuk menentukan semuanya, termasuk terkabulnya dari doa yang kita panjatkan.
Dan jadikanlah harapan akan dikabulkannya doa yang kita panjatkan menjadi rutinitas hidup wajib pada keseharian.