Wednesday, August 29, 2012

Benarkah Al-quran Hasil Karya Nabi Muhammad SAW ?

Kita pasti bertanya-tanya setelah melihat judul di atas. 

Apakah benar Al-quran kitab suci umat islam itu merupakan karya dari Nabi Muhammad Saw ? 
Jawabnya tentu tidak. 
Kemudian apa bukti dari jawaban “Tidak”?. 

Sebelum  kita masuk lebih jauh lagi, tahukah kalian bahwa tuduhan yang serupa jauh hari sebelum adanya orientalis telah di lontarkan oleh kaum kafir quraisy. 
Mereka menuduh Nabi Muhammad mengarang dan mengada-ada tentang Alquran tidak cukup sampai di situ, bahkan mengatakan Nabi Gila. 

Allah Swt telah menegaskan di dalam Alquran prihal mereka yang menuduh Nabi Muhammad Saw tanpa bukti yang jelas. Allah berfirman: bahkan mereka (orang kafir) berkata, “Dia Cuma mengada-ada saja.” Katakanlah (Muhammad), “jika aku mengada-ada, akulah yang akan memikul dosanya, dan aku bebas dari dosa yang kalian perbuat.” (Q.S. Hud: 35).

Baik. Kita langsung masuk ke pembahasan bahwa Nabi tidak mengarang-ngarang Alquran dengan banyak macam bukti di antaranya:

Pertama: Nabi Muhammad Saw adalah seorang umi yaitu tidak bisa menulis dan membaca. Apakah masuk di akal jika Al Quran adalah ciptaanya? Apakah dengan keadaan beliau seperti itu bisa menyusun kata demi kata yang memiliki makna luar bisa, dan menetapkan suatu hukum tanpa harus belajar? Bagaimana mungkin beliau melakukannya, sedangkan di dalam Al Quran terdapat banyak sekali mukjizat yang tersusun dari setiap untaian kaliamat, kata, hingga huruf. 
Yang terkandung di dalamnya ilmu teologi, sosiologi, biologi, ekonomi, politik ilmu syariat dll, tidak mungkin dengan seorang yang tidak tahu membaca dan menulis bisa membuat sebuah karya yang luar biasa. Maka jelaslah bahwa Nabi Muhamad Saw bukanlah pelakunya. Melainkan dzat yang Maha Tahu yang menciptakan Alam semesta yakni Allah Swt.

Kedua: Jika seandainya Nabi Muhammad Saw yang membuat Al Quran, mengapa beliau menisbahkan Al Quran adalah kalam Allah Swt ? Pernahkah kalian mendengar seseorang yang membuat sebuah maha karya kemudian maha karya tersebut dinisbahkan kepada orang lain? Terbuktilah bahwa penisbatan yang di lakukan Nabi terhadapa Al Quran sebagai kalam Allah adalah sebuah ungkapan keagungan kepada Allah yang dari Nya lah datang Ayat-ayat suci ini.

Ketiga: di dalam Al Quran terdapat ayat-ayat yang menceritakan tentang perihal orang-orang terdahulu, yang di mana kisah-kisah tersebut berbeda dengan yang terdapat di dalam kitab-kitab suci lainnya. 
Dari mana Nabi Muhammad mengetahuinya jika beliau yang membuat Al Quran ? 
Dari mana Beliau mengetahui tentang kisah zul qarnain ? 
Dan darimana Beliau mengetahui kota Iram yang di jelaskan di dalam surah Alfajr, kota yang memiliki banyak tiang. 
Dimana kota ini dulunya belum pernah di ketahui. Bahkan sampai sekarang juga para pakar arkeologi belum bisa memastikan keberadaanya.
Tetapi dalam sebuah majalah geografi tahun 1978 M di beritakan sebuah penemuan penting pada tahun 1973M yaitu di temukannya kota bernama Elba di suriah. 
Para ilmuwan menaksir usianya kurang lebih 46 abad. Ilmuwan menemukan di dalam perpustakan kota tersebut sebuah dokumen 
Negara lain yang pernah melakukan kerjasama termasuk salah satunya adalah kota Iram, yang di jelaskan di dalam Al Quran.  
Di dalam Al Quran terdapat banyak sekali maklumat yang menunjukkan bahwa pelaku semua ini bukanlah seorang manusia.

Keempat: Coba perhatikan di dalam Al Quran banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan. 
Ada salah satu contoh, di dalam Al Quran Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am :125)
Hal ini sejalan dengan apa yang di temukan para ilmuwan bahwa udara yang biasa terjangkau oleh kita di muka bumi memiliki kadar oksigen yang tinggi sehingga kita dapat bernafas dengan lega. 
Namun semakin kita menaiki tempat yang lebih tinggi, maka semakin tinggi kita naik semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat kita hirup. 
Misalnya jika kita menaiki gunung yang tingginya berkilo-kilo meter dari permukaan laut, jika kita tidak menggunakan tabung oksigen untuk bernafas, kita akan semakin sulit untuk menghirup udara, sehingga dada kita terasa amat sesak. Atau bahkan kita bisa sampai pingsan karena itu. Setelah kita melihat semua kenyataan ini apakah Al Quran buatan Nabi Muhammad Saw ?

Kelima: Di dalam Alquran terdapat teguran yang di tujukan kepada Nabi Muhammad Saw, salah satu contoh firman Allah:  “Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui  orang-orang yang berdusta?” (QS. Attaubah: 43). 
Bagaimana seorang yang di katakan membuat Al Quran sedangkan dia menegur dirinya sendiri ? 
Sangat tidak masuk akal.  Maka jelaslah bahwa Al Quran bukanlah buatan Nabi Muhammad Saw melainkan perkataan Allah Swt, Tuhan semesta alam. 
Masih banyak lagi bukti lainnya tapi saya merasa lima bukti ini sudah cukup mematahkan argumen mereka yang menuduh Nabi Saw.

Saya menutup tulisan ini dengan firman Allah: 

“Maka tidakkah mereka memahami (mendalami) Al Quran ? Sekiranya (Al Quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan didalamnya.” (QS. Annisa: 82).

Wallahu A’alam.

Monday, July 30, 2012

PUASA

Sebuah kata terlintas di pikiran pada suatu siang yang terik di kota kelahiran.




Apa arti "Puasa" ya, jika dikaji menurut hurufnya...huruf hijaiyah tentunya.


Penasaran saya buka buka laptop dan inilah hasilnya...
Puasa (B. Indonesia) atau صوم - Shoum (B. Arab)


Terdiri dari 3 huruf yaitu  :


 ص (Sh) dalam susunan huruf hijaiyah berada pada urutan ke 14 
    atau jika dianalogikan sebagai urutan surat   
    adalah surat ke 14 - Ibrahim (Seorang Nabi yang berpikir  
    logis tentang keesaan Allah).


 و  (wau) Vokal dalam tulisan arab dituliskan dengan menggunakan  
    huruf wau yang dalam susunan abjad hijaiyah berada pada    
    urutan ke 26 atau disimbolkan sebagai nama surat adalah 
    Surat ke 26 - Asy Syuaraa - Para Penyair.


 م (Mim) dalam urutannya menempati urutan ke 24 atau jika  
    dianalogikan sebagai urutan surat adalah surat ke 24 atau  
    Surat An Nuur - Cahaya


Woow makin menarik ternyata, sekarang coba dijumlahkan angka pada surat-surat tersebut...


14 + 26 + 24 = 64


Jika angka 64 dianalogikan sebagai nomor surat maka Surat ke-64 adalah Surat At Taghabun (Hari Dinampakkan Kesalahan).


Ada rasa sesak di sanubari...setelah tahu arti dari surat At Taghabun, jadi hank otak ini.


Setelah mencoba menggabungkan judul surat yang tersebut diatas, ada sebuah kesimpulan dari otak yang bebal ini, yang isinya kurang lebih :


"Puasa dilakukan seorang muslim dengan kesadaran akan ke-esa-an Allah dan berharap sesuatu dari Nya (harapan itu hanya Allah dan pelaku puasa sendiri yang mengetahuinya) sehingga akan memperoleh petunjuk (Cahaya) dari Allah sehingga pada saatnya nanti akan ditunjukkan kesalahannya".


Kok hampir mirip seperti yang diajarkan oleh guru agama waktu di SD-SMA dulu ya ? Kok penjumlahan dari surat yang diatas juga di surat yang ke-64 ?

Maha Besar engkau, Ya Allah..

Salam
Selamat Berpuasa.



Saturday, July 28, 2012

Mencoba mengerti makna SHALAT


Dalam kajian Al Quran dengan pendekatan huruf dan angka ada sebuah bahasan yang menarik yaitu tentang صلاة (Arab) atau Shalat (Indonesia).

Jika dipisahkan menurut susunan hurufnya, maka akan ada ulasan sebagai berikut :

ص (Sh) yang dalam urutan huruf hijaiyah (alif, ba, ta....dan seterusnya) berada di urutan ke 14.
Jika angka 14 dianggap sebagai nomer surat dalam Al Quran, maka akan ditemukan bahwa urutan ke-14 surat dalam Al Quran adalah Surat Ibrahim (Nabi Ibrahim) yang seperti diketahui bahwa Rasul Ibrahim adalah Rasul yang mendirikan Kabah atau Kiblat untuk Shalat.
Rasul Ibrahim adalah juga seorang Rasul yang berpikir tentang Ke Esa an Allah secara logis.

ل (L) ada di urutan ke 23 dalam susunan huruf hijaiyah sama seperti ulasan diatas maka akan diketahui Surat ke 23 adalah surat Al Mu'minuun (Orang-orang yang beriman).
Maka jika diartikan secara bebas maka Shalat dilakukan oleh orang yang beriman.

و (A) ada di urutan ke 26 dalam susunan huruf hijaiyah atau surat ke 26 yaitu Surat As Syu'araa (Para Penyair). Produk dari penyair adalah syair, yang arti dari syair tersebut secara pasti hanya diketahui oleh pengarangnya.
Maka maksud dari laku/tujuan dari shalat tersebut hanya diketahui oleh pelakunya.

ة (T) ada di urutan ke 32 dalam susunan huruf hijaiyah sama seperti ulasan diatas maka akan diketahui Surat ke 32 adalah surat As Sajdah (Sujud/batas).
Jika diartikan secara bebas maka shalat adalah sujud kepada Allah, atau bisa juga diartikan untuk mengetahui batasan dalam diri seseorang dengan mengetahui kelemahan diri sendiri dan kelebihan orang lain.

Jika dijumlahkan angka dari surat-surat yang tersebut diatas :

14 + 23 + 26 + 32 = 95

Jika angka 95 dianalogikan sebagai nama surat maka akan diketahui bahwa surat ke 95 adalah surat At Tiin.
Yang ayat terakhirnya adalah QS 95:4

“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Maka terjemahan bebas mengenai shalat dalam kajian Al Quran dengan metode pendekatan huruf dan angka.

Shalat adalah suatu tindakan yang dilakukan secara sadar dan logis untuk mengakui ke Esa an Allah dengan menghadap kiblat yang telah ditentukan (Ibrahim) yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah (Al Mukminuun) yang mana tujuan dari melakukan shalat tersebut hanya pelaku dan Allah yang mengetahuinya (Asy Syu'araa) agar tahu batasan dirinya yaitu kelemahan diri sendiri dan kelebihan orang lain (As Sajdah).

Dan hasil akhir dari shalat tersebut hanya Allah yang memberikan karena hanya Allah Ta Alla Hakim yang Paling Adil.

Monday, November 14, 2011


Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun

03DEC
Ini suatu cerita yang indah (dari sebuah milis):
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Qur’an di meja makan di dapurnya.
Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucunya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’an seperti yang
kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’an?
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas sambil berkata , “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”
Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong , maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, “Aku tidak mau satu ember air ; aku hanya mau satu keranjang air.”
Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai di depan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, “Lihat Kek, percuma!” ” Jadi kamu pikir percuma?”
Kakek berkata, ” Lihatlah keranjangnya. ” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. ”
“Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, di dalam dan diluar dirimu .
Jika Saudara merasa artikel ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke teman-temanmu.
Seperti sabda Nabi Muhammad (SAW) :
” Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjaranya
yang sama ”

Saturday, October 1, 2011

Al Quran sebagai Operating System dalam diri


Instropeksi

Dalam perjalanan saya yang penuh gejolak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah timbul suatu pemikiran yang sederhana.......

"Bagaimana jika saya mencoba memahami Sang Khalik dengan mempelajari hasil karya Nya yang Agung yaitu Al Quran........"

Tapi darimana saya harus memulainya sedang pengetahuan saya untuk itu amat terbatas atau tidak ada sama sekali.
Saya yakin akan menemukan petunjuk seperti keyakinan saya terhadap Allah sebagai Yang Maha Memberikan Petunjuk.

Suatu ketika tanpa sengaja saya membaca terjemahan yang bunyinya sebagai berikut :

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.

Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

Apabila Kami telah selesai membacakannyamaka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.

(QS 75:16 - 19)


Sebuah ayat yang amat luar biasa bagi saya, yang tidak mempunyai pengetahuan tentang Al Quran, ternyata Allah sendiri yang menjamin bahwa pemahaman tentang Al Quran akan diberikan jika kita berniat mempelajarinya.

Wow, sebuah pengalaman spiritual yang dahsyat...

Tetapi tetap timbul pertanyaan besar dalam diri saya, bagaimana harus memulainya... karena saya sudah jenuh mempelajari dengan cara konvensional.

Pasti ada jalan keluar dan Allah jua lah yang akan memberikannya.


Berangkat dari hal-hal tersebut diatas maka saya berkeyakinan keras akan menjadikan Al Quran sebagai Operating System dalam diri saya